Halaman

Jumat, 30 Desember 2011

Tentang Kuliah


Yapp, kuliah itu emang ga seperti pas SMA, SMP, ataupun SD. Kuliah itu sangat berbeda. Berbeda 360 derajat. Untungnya ga pake celcius. Hehehehehe..
Selama ane kuliah ini banyak sekali kejadian-kejadian yang membuat hati sedih, seneng, sebel, sesek, sedep juga adda.
Yah memang kuliah itu pasti udah pada mahasiswa subjeknya, udah dewasa dan bukan anak-anak lagi. Nah, makanya dosen itu biasanya menyampaikan materi kuliah itu banyak beud yang membosankan.
Sebenarnya, bukan berarti kita udah jadi mahasiswa, terus kuliah itu jadi monoton. Ga setuju!! Mahasiswa juga seneng kok penyampaian materi itu beragam, seru jadinya. Ga di kelas terus, ato di lab terus.
Dan jeritanku terjawab dengan matakuliah Jurnalistik.
Seneng deh rasanya pas kuliah Jurnalistik itu ada kuliah di luar, ya gini nih kalo dosennya gaul. Hehehehe, ga usah sebut nama deh sapa nama dosennya, tar beliau Ge-Er, hehehehehe. Tapi sumprit ane seneng beud. Kuliah hari minggu di alun-alun, seru..kuliah itu ga harus di kelas kan? Seru itu kita lebih dekat dengan alam, bisa makan, bisa window shopping.
Ya gini ni lhu sebenarnya kuliah yang cocok buat mahasiswa. Tapi bukan berarti setiap hari kita harus diluar terus, tapi perlulah sekali-sekali mahasiswa diajak lebih merakyat, bener kan? Ga harus di alun-alun, bisa dimana-mana, mall, pasar, kuburan juga gapapa. Nah kalo yang di kuburan ini cocok buat belajar tahlil, hehehehehe.
Film-film Hollywood contohnya, kalo menceritakan kehidupan mahasiswa yang lagi pada kuliah gitu, dosennya itu gaul beud. Ngajak kuliah dimana-mana, tapi dosen di kampusku hanya 1000 satu yang gaul kayak gitu. Semoga aja tar kalo ane jadi dosen, ane bisa bikin mahasiswa ane ngarasa ga bosan dengan banyak kuliah diluar, agar lebih merakyat.
Aminn..

Tentang Teman (^0^)
        Mmmm, teman. Aku ga punya teman. Hahahahahahhaha..
Becanda kok. Mm, menceritakan teman itu ga aka nada abisnya. Banyak cerita akan terurai kalo menceritakan tentang pertemanan. Ada suka, duka, sebel, pokoknya macem-macem. Temen itu macem-macem, ada yang tulus, ada yang bermuka dua, ada yang nyebelin ila yaumil qiyamah, ada yang lemah lembut, ada yang cerewet, ada yang manja, ada yang pendiem, ada yang sok pinter, ada yang emang pinter. J
        Menjadi teman yang baik itun emang sulit. Berusaha selalu ada dalam suka dan duka itu sulit, cz ga semua orang bisa berada pada dua situasi ini. Tapi kalo pertemanan kalian bisa bertahan lama dan langgeng itu berarti kalian adalah teman yang baik. Memahami watak dan karakterisitik teman itu juga butuh perjuangan. Kadang masalah itu muncul ketika kita sebagai teman kurang bisa memahami teman, ya kan?
        Kalo teman kuliahku juga gitu, ada yang diem beud, dari awal kuliah sampai mau UAS aku ga pernah dengar suaranya berpendapat waktu diskusi. Tapi ada juga yang aktif beud, sampe bosen gitu deh tiap kali dia “bersuara” menyampaikan diskusi, tapi ya gak apa-apa, namanya juga manusia. Hehehehehe..
        Di kuliahku ini, ane paling deket ama ketiga temen kelasku, dua diantaranya sudah tidak perawan lagi, alias udah beranak. Hahahaha..
1.   Fitria Indah Alfina, nama yang indah bukan? Bukaaaaann!
Hahahahha, tapi namanya udah tak sulap jadi SARIPIN, IPIN ini yang bagussss. Emmm. Secara fisik dia itu berbeda ama ane. Dia itu tinggi beud and kurus beud, tapi anehnya pipinya sekarang mulai sedikit mengembang. Dia ini teman yang bisa diajak seneng-seneng, susah, melet-melet. Dibandingkan dengan aku, dia lebih hi-tech, so ane banyak berguru ke mbak yang satu ini. Karena terkena virusku sekarang dia lebih ekspresif. O iya, dia punya nama Jepang, sesuai ama tokoh di komik kesukaanku, Hai Miiko. Namanya Yukko Chan, apik toh? Alhamdulillah ya…
2.   Ibu Vita Fitriyatul Ulya, biasa panggil Mak Vita karena sudah beranak pinak. Anaknya namanya Nadiya, suaminya namanya Pak Herfin, keren toh? [apanya yang keren?] mmm, di antara ketiga temenku ini dia itu paling manja dan masih kayak anak kecil. Kalo tak ajak kebut-kebutan dijalan itu paling takut. Tapi Mak Vit ini pinter lhu, ga malu-maluin. Hehe. O iya, dia paling suka ama aksesoris yang bling-bling, hebbbohh..
3.   Ibu Chusenul Wibawon, biasa tak panggil cenul. Mmm, dia itu judes, nyebelin, tapi untung wajahnya lumayan cantik, jadi agak tertolong. Alhamdulillah. Nama anaknya Alya. Cenul itu emosinya yang paling labil. Tapi sebagai teman enak lah, bisa diajak sharing masalah-masalah kehidupan.
Mmm, diluar kelas ane punya teman long-time relationship. Namanya Hawzah Sa’adati. Biasa tak panggil atik, mm..dia punya nama komik namanya Mariichan. Kesukaannya sama, suka beud membaca, khususnya baca komik Miiko. Dia ini kuliah di jurusan Matematika di kampus yang sama. Karena hidupnya berkecukupan, jadi dia hidupnya yang paling “aman”. Cita-citanya sama, pingin kuliah di Eropa. Tapi sebenarnya dia pingin ke Jepang. Tapi ada yang beda, ane suka Real Madrid, dia suka Chelsea.
Dia ini teman yang baik, bisa diajak seneng, susah, melet-melet. Dia ini temen kamarku di mahad mulai awal kuliah, jadi ane udah pernah kumpul kebo ama dia setaun. Huuuuaa..amazing!
Secara personality dia termasuk orang yang ga bisa tenang, tapi lebih diam daripada ane. Pengalaman bermasyarakatnya ga begitu banyak, cz hidupnya di perumahan ga banyak punya temen di kampung. Kesssiiannn..
        Yahh, itulah teman-teman saya. Luph u..
       


Pengertian Pers dan Jurnalistik


Assalamualaikum, olooooooo..
Hehehe, welcome back, kali ini ane akan memaparkan tentang pengertian pers & jurnalistik, tapi kali ini dengan bahasa yang sedikit intelek, cz ini didapat dari buku. Ada referensinya kok, tenang ajja! ^^
Kegiatan jurnalistik dimulai dengan munculnya Acta Diurna, sehingga kata jurnalistik berasal dari kata Latin: diurnalis (Latin), journal (Inggris), atau du jour (Prancis), yang berarti informasi atau peristiwa yang terjadi sehari-hari. Bersamaan dengan munculnya mesin cetak, muncullah istilah press (Inggris) atau pers (Belanda), yang sebenarnya berarti menekan (pressing), karena mesin cetak menekan kertas untuk memunculkan tulisan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jurnalistik merupakan kegiatan menyiapkan, menulis, mengedit dan memberitakan untuk surat kabar, majalah atau berita berkala lainnya. Menurut ilmu publistik, jurnalistik merupakan suatu cara menyampaikan isi massa (khalayak) dengan menggunakan media massa. Jurnalisme merupakan kegiatan menghimpun berita, mencari fakta dan melaporkan peristiwa. Kegiatan ini dilakukan oleh jurnalis dalam usaha memunculkan informasi berita bagi masyarakat melalui media cetak atau elektronik.
Istilah pers sendiri baru muncul setelah J. Guttenberg menemukan mesin cetak yang kerjanya menekan (press) kertas untuk mencetak. Istilah pers dikaitkan dengan leksikon komunikasi berarti: (1) usaha percetakan atau penerbitan; (2) usaha pengumpulan dan penyiaran berita; (3) penyiaran berita melalui media massa cetak dan elektronik; (4) orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita; (5) medium penyiaran berita yakni media cetak dan elektronik.
Selain itu, pers diartikan dalam arti sempit dan arti luas. Dalam arti sempit pers diartikan sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan dengan perantaraan barang cetakan. Pers dalam arti luas diartikan kegiatan komunikasi, baik yang dilakukan dengan barang cetakan maupun dengan media elektronik. Pers bisa diartikan sebagai lembaga atau orang yang bekerja di bidang penerbitan dan penyiaran.
Sedangkan kegiatan jurnalistik berbeda. Orang yang mengaku sebagai jurnalis berarti dapat dipastikan mereka bekerja di lembaga pers, tetapi dengan pekerjaan yang spesifik, terkait dengan proses penggalian, penulisan, dan seluruh proses berita, termasuk proses pengambilan berita. Hanya pimpinan redaksi dan jajarannya yang boleh mengakun sebagai wartawan dan diakui dari organisasi kewartawanan. Sedangkan orang pers yang bertugas di luar bidang pemberitaan, baik di media cetak maupun elektronik, tidak boleh mengaku jurnalis.
Pimpinan perusahaan, bagian pemasaran, bagian sirkulasi tidak boleh mengaku sebagai wartawan. Sebaliknya wartawan dan siapa pun yang bekerja di perusahaan pers boleh mengaku sebagai “orang pers”.

Referensi:
Mondry, 2008. Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia.

Goes to Radar Malang


       Kapan lagi bisa jalan-jalan ke percetakan salah satu koran terbesar di kota Malang kalo ga ikut kuliah jurnalistik, that’s the point!! Hehehehhe..
Mimpi ini terwujud pada Jumat, 16 Desember ketika dosen jurnalistik ane, Pak Anwar ngajak kita-kita ke Pakisaji buat ngliat proses percetakan koran Radar Malang, yuhhu..senangnya!
Berangkat deh kita-kita, ya walo ga semua anak ikut, karena hujan. Dalam hati seneng beud gitu walo hujan ane tembus juga dahh, kapan lagi coba bisa kesana..
Nyampe juga disana, udah sekitar jam lima-an sore gitu. Pak Anwar bilang sih kalo percetakan korannya sendiri itu sekitar jam 12an malem, tapi berhubung kita-kita kurang bermufakat untuk kunjungan jam segitu. Akirnya kita datangnya menjelang maghrib.
Sip, semua sudah berkumpul!
Tanpa ba-bi-bu, masuklah kita ke percetakan. Pas dihari itu juga ada kunjungan mahasiswa dari UB, so..bersamalah dua universitas ini dalam mengarungi saat-saat di percetakan. Ketika masuk, wuihhh..ternyata mesinnya gede-gede ya, hehehehe..like a giant printer!!
Biasa kayak orang ndeso gitu ngliatnya, hanya bisa menganga melihat cara kerjanya para mesin yang budiman ini. Tapi beruntungnya, waktu itu mesinnya lagi kerja mencetak LKS kalo ga salah, hehehe.. so paling tidak ane bisa membayangkan gimana kalo korannya dicetak.. J
Suaranya bising juga, berisik.. mmm, mesinnya itu gede-gede beud, kira-kira tingginya itu 3x tinggi manusia normal. Sayangnya ane ga tau apa aja nama mesinnya. Tapi yang pasti mesin itu awalnya jalannya pelan, lama-lama jadi cepet beud dan suaranya makin bising. Yang pasti mesinnya ini bukan made in china, hehehehe..mede in germany (terlihat dari bahasanya).
Unfortunately, ane kurang mendengarkan penjelasan dari pak anwar, yang ada malah sibuk foto-foto ama Vita ma Ipin, hehehehe. (maap Pak Anwar)..
Percetakannya ini ada dua lantai, lantai bawah itu ya tempatnya mesin-mesin yang  gede-gede itu, lalu ada tumpukan lembaran LKS, ada beberapa pekerja di sekat ruangan yang lain..
Terlihat lumayan sistematis sih pekerjanya..
        Lalu kita digiring pak Anwar ke lantai dua, ga tau apa namanya, yang pasti masih dengan mesin-mesin yang ga penah ane liat sebelumnya. Kalo pingin jelasnya Tanya langsung ke Pak Anwar atau Tanya Ipin ajja, dia tau segalanya. [waktu itu ane sibuk ngapain yak kok sampe ga paham Pak Anwar ngomong apa aja.. piss]
        Terdengar bunyi adzan maghrib, kami digiring keluar dari percetakan dan kami diajak lagi ke Kantor Radar Malang yang ga jauh dari percetakannya. Mmm, kantornya bernuansa biru muda, AREMA!!
Kami diajak ke lantai dua untuk melihat proses “membuat berita”. Banyak computer, tapi ga nyampe 50 komputer [ini kan bukan lab komputer], heheheheheh..
        Rata-rata para pekerjanya sibuk di depan computer masing-masing, dengan tangan menari-menari diatas keyboard, ngetik ding maksudnya. Disitu kami dibebaskan untuk bertanya ke masing-masing pekerja tentang cara kerja seorang jurnalis. Ya iyalah, masa disuruh Tanya gimana cara bikin bakso, ya ga tau mereka.. hehehehe..
Teman-teman sibuk bertanya, sedangkan ane sibuk menjadi tukang fotonya Vita ma Ipin, hhhh…payah!
        Kunjungan kami berakhir disini teman-teman. Hiks.. T_T
        Kunjungan kami berakir dengan foto-foto bareng Nicholas Saputra, eh salah ding…foto bareng Pak Anwar, hehehehehe..
        Seneng deh rasanya bisa jalan-jalan melihat cara kerja pers, paling ga tar kalo ane ditanya ma anak-anak ane gimana caranya nyetak koran ane udah ada gambaran.
Luph u Pak Anwar!!


Jalan-jalan ke Malang Post


Mmm, sebenarnya ane itu ga pingin berbagi ke semuanya tentang kunjunganku bersama teman-teman ke Malang Post beberapa hari yang lalu. Tapi berhubung ini termasuk tugas dan harus ada di tampilan blog, so I have to. Sebenarnya pingin tak simpan dalam hatiku saja sampai akhir hayatku, hehehehehehe.. lebay!
        Kalo kalian-kalian anak Malang, pasti udah tau kann ama surat kabar yang satu ini, yak..Malang Post!! U’re right!!
Ceritanya gini nih, hari itu kami sekelas kuliah di kantornya Radar Malang yang ada di Jl. Arjuno, disana kami kuliah lah kayak biasanya, tapi dengan suasana yang berbeda. Lalu, lagi-lagi aktornya dalam cerita hari ini, Pak Anwar mengajak kami kunjungan media. Diajaklah kami sekelas ke Jl. Sriwijaya, kami ke Malang Post. Tapi sebelumnya, ane musti muter-muter bersama Ipin, Vita n Cenul dulu cz kami ketinggalan rombongan, dan yang paling fatal, ane ga tau kantornya, hehehehehe..khilaf!
        Tapi akhirnya ane mendapat hidayah dan sampailah kami berempat dengan selamat. Tentu ajja kami ga disambut ama tarian selamat datang. Untungnya kami masih ditunggu ama rombongan teman-teman yang lain.
Akhirnya kami semua masuk ke sebuah ruangan yang banyak kursinya, dan kami dipersilahkan duduk. Alhmadulillah ga disuruh jongkok..
        Disitu, kami dikasih wejangan ama Pemimpin Redaksinya Malang Post, namanya Mr. Nur Mujtahid, yeahh..Rock On! Beliau bertausiyah tentang lika-likunya Malang Post dari awal sampai akhir..
Malang Post itu berdiri kira-kira sudah 13 tahun, berdiri pada Agustus 1998. Pada waktu itu bertepatan kepemimpinan Pak Habibie sebagai presiden, yang beliau pada waktu itu mencabut SIUP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) dan artinya maka terciptalah kebebesan pers. Karena kita teman-teman pada masa pemerintahan sebelumnya pers kan “gak” bisa bergerak bebas.
        Malang Post ini memantapkan dirinya sebagai surat kabar lokal atau community newspaper, jadi memang surat kabar ini berkonsentrasi pada berita lokal Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu). Menurut Pak Nur ini, surat kabar lokal itu lebih berkembang daripada koran Nasional. mmm, tapi ane lupa apa alasannya, hahahahahah..
        Selain itu, coverage area dari Malang Post ini jika dikerucutkan akan seperti ini, Malang Raya -> Sepakbola -> Arema. Hal ini emang sesuai sih ama citarasa masyarakat Malang yang rata-rata gibol, gila bola. Makanya ga heran kalo motto dari Malang Post sendiri,”Korane Arek Malang!” emang bener kan?
        Menurut Pak Nur lagi nih, masa depan surat kabar masih cerah lah, karena dalam mindset masyarakat masih ada alasan tradisional yaitu ketika ada berita terbaru rasanya tidak puas jika hanya melihat di TV, internet, yang ketiga harus membaca koran. Kalau dipikir-pikir ane juga masih berfikir seperti kitu, berarti ane masih tradisional dung. Hahahahaha..
Hal ini karena kita kan tau kalo surat kabar itu bersifat dokumentasi, kadang ada yang luput dari berita yang ditampilkan di TV atau internet, ternyata bisa diceritakan dengan kata-kata yang disusun rapi menjadi seklumit berita di surat kabar yang menjadi satu kesatuan yang utuh. Ewwwwenak.. J
Kami berdiskusi bersama pak Nur Mujtahid selama lebih dari 24 jam, hehehe..ga sampe ding, lebay! ehh..tapi kemana ya Pak Anwar? Dari tadi kok ga kecerita, tau ga..Pak Anwar dari tadi ngutek-ngutek hapenya, itu lhu smartphone, BB. Heh, bukan Bau Badan, yapp..betul! Blackheri. Hehehehehe..[piss pak]
Setelah acara diskusi selesai, kami lalu digiring ke kantor Redaksinya Malang Post, ya…banyak computer dan banyak staf yang waktu itu jarinya menari-menari diatas keyboard, alias menulis berita…
Kunjungan hari itu diakhiri dengan berfoto ria ama Pak Nur Mujtahid..
Ewwwennnaaakk..