Membicarakan pers Indonesia merupakan salah satu bagian sejarah yang tidak terpisahkan dari rangkaian sejarah Indonesia. Seperti halnya proses Indonesia mencapai kemerdekaan, pers Indonesia juga mengiringi proses kemerdekaan tersebut. Perkembangan pers Indonesia mengalami tahap-tahap perkembangan dan terdapat ciri khas tersendiri. Dalam perjalanannya tersebut, pers Indonesia juga mengalami pasang-surut. Merupakan salah satu hal yang wajar dalam sebuah dinamika hidup terdapa pasang surut. Tidak selamanya berjalan lancar dan tanpa hambatan.
Jika bisa dikatakan, pers adalah salah satu hal mulia yang dilakukan oleh manusia. Namun, dalam perkembangannya, kadang pula pers digunakan tidak pada semestinya. Pers Indonesia pada masa kolonial Belanda dan Jepang banyak digunakan sebagai alat propaganda untuk kepentingan kolonial. Kadangpula jika pers tidak digunakan sebagai alat propaganda, maka pers tersebut harus berada dibawah pengawasan pihak kolonial. Artinya, kebebasan pers Indonesia pada saat itu dibatasi.
Jika dulu pers Indonesia digunakan sebagai alat propaganda, kini pers Indonesia bisa digunakan sebagai pengontrol kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Jika kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah menimbulkan pertentangan di masyarakat, maka pers dapat “mengingatkan”.
Jika diperhatikan lebih jauh, pers sebenarnya memiliki fungsi sebagai pembangun peradaban manusia, baik ke arah yang lebih baik atau buruk. Pers merupakan salah satu pembelajaran yang dapat digunakan oleh rakyat Indonesia dalam membentuk peradaban manusia Indonesia yang lebih baik. Hal ini bisa tercapai bila pers Indonesia bisa “dewasa” dan “bijak” dalam menyampaikan informasi. Dewasa dan bijak memiliki artian bahwa keadaan Indonesia yang memiliki model Negara demokrasi, bukan berarti pers kehilangan acuan sehingga dalam menyampaikan informasi tidak proporsional.
Sebenarnya, untuk menjadi bangsa yanga memiliki peradaban yang lebih baik tidak hanya ditunjang dengan sistem negara dan kebudayaan yang baik, namun dapat dimulai dari pers. Pers harus dapat menyampaikan berita secara berimbang dan tidak memihak salah atu pihak. Jika pers dapat melakukan hal tersebut, maka masyarakat juga dapat “terlatih” sebagai bangsa yang memiliki pandangan dewasa dan bijak dalam menghadapi sebuah permasalahan. Namun dalam menyampaikan informasi pers kurang bertindak “bijak” dan “dewasa”, maka masyarakat juga akan “terpatri” menjadi bangsa yang hanya gemar menghujat dan menghujat. Bukankah menghujat bukanlah yang tidak baik?
Untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik, juga menajdi tugas penting pers Indonesia dalam mengantarkan hal ini. Bukankah bangsa dengan peradaban yang lebih adalah bangsa yang optimistis dan positive thinker? Dalam menjadikan mayarakat memiliki pemikiran yang selalu optimistis dan berpikir positif dapat dilihat bagaimana pers dapat memberikan informasi yang tidak hanya menyampaikan “apa yang sudah terjadi?”, “bagaimana hal ini bisa terjadi?”, “mengapa hal ini bisa terjadi?” yang saya konotasikan bermakna negatif dan menimbulkan rasa pesimistis dalam jiwa pembacanya. Namun sebenarnya pers harus banyak menampilkan the positive thing yang sudah banyak dilakukan, sehingga dapat menimbulkan virus optimis dan menjadikan slogan “Aku Bisa” menjadi salah satu hal yang akan selalu diucapkan oleh amsyarakat Indonesia.
Barang tentu hal ini bukanlah tidak mustahil, karena impossible is nothing, selama pers Indonesia “dipegang” oleh orang-orang yang ingin Indonesia lebih baik, dan tidak “ditunggangi” oleh kepentingan-kepentingan politik dan ekonomis. Jika hal ini masih banyak dilakukan oleh pers Indonesia, mka selama itu pula bangsa kita hanya akan menjadi bangsa yang gemar menghujat.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar