Mmm, sebenarnya ane itu ga pingin
berbagi ke semuanya tentang kunjunganku bersama teman-teman ke Malang Post
beberapa hari yang lalu. Tapi berhubung ini termasuk tugas dan harus ada di
tampilan blog, so I have to. Sebenarnya pingin tak simpan dalam hatiku saja
sampai akhir hayatku, hehehehehehe.. lebay!
Kalo
kalian-kalian anak Malang, pasti udah tau kann ama surat kabar yang satu ini,
yak..Malang Post!! U’re right!!
Ceritanya gini nih, hari itu kami
sekelas kuliah di kantornya Radar Malang yang ada di Jl. Arjuno, disana kami
kuliah lah kayak biasanya, tapi dengan suasana yang berbeda. Lalu, lagi-lagi
aktornya dalam cerita hari ini, Pak Anwar mengajak kami kunjungan media.
Diajaklah kami sekelas ke Jl. Sriwijaya, kami ke Malang Post. Tapi sebelumnya,
ane musti muter-muter bersama Ipin, Vita n Cenul dulu cz kami ketinggalan
rombongan, dan yang paling fatal, ane ga tau kantornya, hehehehehe..khilaf!
Tapi
akhirnya ane mendapat hidayah dan sampailah kami berempat dengan selamat. Tentu
ajja kami ga disambut ama tarian selamat datang. Untungnya kami masih ditunggu
ama rombongan teman-teman yang lain.
Akhirnya kami semua masuk ke sebuah
ruangan yang banyak kursinya, dan kami dipersilahkan duduk. Alhmadulillah ga
disuruh jongkok..
Disitu,
kami dikasih wejangan ama Pemimpin Redaksinya Malang Post, namanya Mr. Nur
Mujtahid, yeahh..Rock On! Beliau bertausiyah tentang lika-likunya Malang Post
dari awal sampai akhir..
Malang Post itu
berdiri kira-kira sudah 13 tahun, berdiri pada Agustus 1998. Pada waktu itu
bertepatan kepemimpinan Pak Habibie sebagai presiden, yang beliau pada waktu
itu mencabut SIUP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers)
dan artinya maka terciptalah kebebesan pers. Karena kita teman-teman pada masa
pemerintahan sebelumnya pers kan “gak” bisa bergerak bebas.
Malang
Post ini memantapkan dirinya sebagai surat kabar lokal atau community newspaper, jadi memang surat
kabar ini berkonsentrasi pada berita lokal Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten
Malang, dan Kota Batu). Menurut Pak Nur ini, surat kabar lokal itu lebih
berkembang daripada koran Nasional. mmm, tapi ane lupa apa alasannya,
hahahahahah..
Selain
itu, coverage area dari Malang Post
ini jika dikerucutkan akan seperti ini, Malang Raya -> Sepakbola ->
Arema. Hal ini emang sesuai sih ama citarasa masyarakat Malang yang rata-rata
gibol, gila bola. Makanya ga heran kalo motto dari Malang Post sendiri,”Korane
Arek Malang!” emang bener kan?
Menurut
Pak Nur lagi nih, masa depan surat kabar masih cerah lah, karena dalam mindset masyarakat masih ada alasan
tradisional yaitu ketika ada berita terbaru rasanya tidak puas jika hanya
melihat di TV, internet, yang ketiga harus membaca koran. Kalau dipikir-pikir
ane juga masih berfikir seperti kitu, berarti ane masih tradisional dung.
Hahahahaha..
Hal ini karena kita
kan tau kalo surat kabar itu bersifat dokumentasi, kadang ada yang luput dari
berita yang ditampilkan di TV atau internet, ternyata bisa diceritakan dengan
kata-kata yang disusun rapi menjadi seklumit berita di surat kabar yang menjadi
satu kesatuan yang utuh. Ewwwwenak.. J
Kami berdiskusi
bersama pak Nur Mujtahid selama lebih dari 24 jam, hehehe..ga sampe ding,
lebay! ehh..tapi kemana ya Pak Anwar? Dari tadi kok ga kecerita, tau ga..Pak
Anwar dari tadi ngutek-ngutek hapenya, itu lhu smartphone, BB. Heh, bukan Bau
Badan, yapp..betul! Blackheri. Hehehehehe..[piss pak]
Setelah acara diskusi
selesai, kami lalu digiring ke kantor Redaksinya Malang Post, ya…banyak
computer dan banyak staf yang waktu itu jarinya menari-menari diatas keyboard,
alias menulis berita…
Kunjungan hari itu diakhiri dengan
berfoto ria ama Pak Nur Mujtahid..
Ewwwennnaaakk..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar