1. Sejarah
Awal Media Massa di Dunia
Sejarah awal media
massa ini dimulai sekitar 3000 tahun yang lalu pada zaman Mesir Kuno. Ketika
Fir’aun di Mesir, Amenhotep III, mengirim ratusan pesan kepada para pegawainya
di berbagai provinsi yang berisi tentang informasi di ibukota kerajaan.
Media pertama yang
secara professional bergerak dibidang percetakan adalah Acta Diurna di Roma dan Gazetta
di Venesia, namun masih berbentuk newssheet,
kertas lepas yang digantungkan. Isinya berupa informasi dari pusat pemerintahan
Romawi kepada rakyatnya sekitar 59 sebelum Masehi. Informasi ini dipasang di Forum Romanum (Stadion Romawi) agar
diketahui oleh rakyat.
Kegiatan di Roma
awalnya menggunakan jasa budak-budak yang pintar, yang bisa membaca dan menulis
untuk mencari berbagai informasi yang diumumkan oleh pemerintah Roma.
Lama-kelamaan, para budak ini memanfaatkan hal ini sebagai usaha untuk mencari
informasi, sehingga muncul istilah slave
reporter atau “kuli tinta”.
Pada tahun 1440, J.
Guttenberg menemukan mesin cetak, yang digunakan oleh Guttenberg untuk
memperbanyak Injil, yang sebelumnya ditulis tangan. Mesin cetak ini berberntuk
silinder sehingga untuk mencetak kertas ditekan diantara silinder, akibatnya
muncullah istilah press. Kemudian
banyak orang yang menyamakan jurnalistik dengan pers.
Eropa Barat dikenal
sebagai embrio dari jurnalisme. Belgia merupakan negara yang menerbitkan surat
kabar pertama kali. Surat kabar ini diberi nama NieweTydingen pada tahun 1605 dan dicetak Vramma Vergevenza. Namun, surat kabar yang terbit secara teratur
adalah Aviso di Wolfenbuttel & Relation di Strasbourg, Jerman. Lalu
surat kabar yang lain bermunculan di Inggris dan Amerika Serikat.
Di Asia, embrio
jurnalistik cetak muncul di China dan Jepang. Di China, pada masa Dinasti Tang,
di lingkungan istana beredar media bernama Pao,
yang berarti laporan. Isinya melaporkan berbagai informasi seputar pejabat
pemerintah. Di Jepang, ditemukan media dari tanah liat, dengan nama Iomori Kavaraban. Hingga kini media
cetak di dunia berkembang pesat dalam berbagai bentuk.
2. Sejarah
Pers di Indonesia
a. Zaman Belanda
Surat
kabar pertama yang muncul di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda, yang masa
itu dipimpin oleh Jenderal van Jonhoff. Nama medianya adalah Baviasche Nouvelles (1774). Diterbitkan
di Batavia yang isinya mendukung sistem pemerintahan kolonial. Pada tahun 1886,
Meulen Hoff mendirikan Pemberitaan Betawi
di Batavia. Setahun kemudian Stevanus Sadiman dan Mas Marcus Garito mendirikan Bianglala. Sinar Terang (1890-1912)
diterbitkan Liem Bian Goan dan Tjaja
Soematra (1899-1933) diterbitkan Liem Soe Hian, yang keduanya berada di
Padang. Tokoh peritis pers Indonesia antara lain Dr. Abdul Rivai, R. Bakrie
Soeraatmadja, R. M. Binarti, Dr. Danudirja Setiabudi (E. F. E. Douwes Dekker)
dan masih banyak lagi yang lain.
b. Zaman Jepang
Pemerintahan
Jepang melarang pers berbahasa Belanda dan Cina. Koran berbahasa Indonesia
mendapat sensor ketat dari Jepang dan jumlahnya hanya sedikit yang tersisa,
antara lain Asia Raja (Jakarta), Sinar Baroe (Semarang), Sinar Matahari (Jogjakarta), Soeara Asia (Surabaya). Kantor berita
Antara diganti namanya menjadi Domei (berbahasa
Indonesia) dan Yashima (berbahasa
Jepang).
c. Periode 1945-1950
Pada
masa awal Indonesia merdeka, beberapa surat kabar di berbagai daerah, seperi Merdeka, Pedoman, dan Berita Indonesia Jakarta. Di Solo, Kedaulatan Rakjat, Waspada di Medan, Mimbar
Oemoem Tebing Tinggi dan Kedaulatan
Rakjat dan Kantor Berita Antara di
Jogjakarta. Sedangkan secara nasional, pada saat itu terdapat 75 surat kabar
dan majalah, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Cina.
d. Periode 1950-1959
Masa
ini ditandai dengan masa pemerintahan liberal yang dipimpin oleh Ir. Soekarno.
Pada periode ini perkembangan surat kabar meningkat, hal ini ditandai dengan
munculnya 104 surat kabar dan 226 majalah yang terbit dan bahasa yang digunakan
juga beragam; Indonesia, Inggris, Belanda dan Cina. Perkembangan politik pada
masa ini juga mampengaruhi perkembangan media massa, dengan munculnya surat
kabar yang dibina oleh politik saat itu, seperti Soeloeh Indonesia (PNI), Harian
Rakjat (PKI), Doeta Masjarakat (NU).
Setahun sebelum Dekrit Presiden dari sisi kemerdekaan pers, 40 surat kabar
dibredel karena isinya dinyatakan bertentangan dengan kebijakan presiden saat
itu. Beberapa surat kabar antara lain Keng
Po, Indonesia Raja dan Bintang
Minggoe.
e. Periode 1959-1965
Sesudah
Dekrit Presiden, Indonesia memasuki masa Demokrasi Terpimpin. Pada masa ini
ditandai dengan informasi media massa tidak boleh bertentangan dengan presiden.
Pada masa ini yang beroplah besar adalah media massa yang dikelola partai
politik.
f. Periode Ode Baru
Pemberontakan
G30S/PKI menyebabkan surat kabar yang “berhaluan kiri” dilarang, seperti Harian Rakjat, Warta Bhakti, dan Soeloeh Indonesia. Bersamaan dengan itu,
muncul pers dan surat kabar mahasiswa sebagai media perjuangannya, seperti Harian KAMI dan Minggoean Mahasiswa Indonesia di Bandung. Perjalanan pers nasional
mengalami masa kelabu, setelah terjadi peristiwa 15 Januari 1974 yang dikenal
dengan Malapetaka Lima Belas Januari (Malari), beberapa surat kabar dilarang
terbit. Setelah itu, surat kabar yang berkembang justru surat kabar independen
dan professional.
Guna
membedakan pers umum miliki lembaga independen dan pers khusus, seperti milik
perguruan tinggi atau lembaga lain. Pemerintah menetapkan surat kabar umum
harus memiliki surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP), sedangkan pers khusus
tetap menggunakan SIT.
Referensi:
Mondry, 2008. Pemahaman
Teori dan Praktik Jurnalistik. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar