Halaman

Jumat, 30 Desember 2011

Sejarah Pers


1.   Sejarah Awal Media Massa di Dunia
Sejarah awal media massa ini dimulai sekitar 3000 tahun yang lalu pada zaman Mesir Kuno. Ketika Fir’aun di Mesir, Amenhotep III, mengirim ratusan pesan kepada para pegawainya di berbagai provinsi yang berisi tentang informasi di ibukota kerajaan.
Media pertama yang secara professional bergerak dibidang percetakan adalah Acta Diurna di Roma dan Gazetta di Venesia, namun masih berbentuk newssheet, kertas lepas yang digantungkan. Isinya berupa informasi dari pusat pemerintahan Romawi kepada rakyatnya sekitar 59 sebelum Masehi. Informasi ini dipasang di Forum Romanum (Stadion Romawi) agar diketahui oleh rakyat.
Kegiatan di Roma awalnya menggunakan jasa budak-budak yang pintar, yang bisa membaca dan menulis untuk mencari berbagai informasi yang diumumkan oleh pemerintah Roma. Lama-kelamaan, para budak ini memanfaatkan hal ini sebagai usaha untuk mencari informasi, sehingga muncul istilah slave reporter atau “kuli tinta”.
Pada tahun 1440, J. Guttenberg menemukan mesin cetak, yang digunakan oleh Guttenberg untuk memperbanyak Injil, yang sebelumnya ditulis tangan. Mesin cetak ini berberntuk silinder sehingga untuk mencetak kertas ditekan diantara silinder, akibatnya muncullah istilah press. Kemudian banyak orang yang menyamakan jurnalistik dengan pers.
Eropa Barat dikenal sebagai embrio dari jurnalisme. Belgia merupakan negara yang menerbitkan surat kabar pertama kali. Surat kabar ini diberi nama NieweTydingen pada tahun 1605 dan dicetak Vramma Vergevenza. Namun, surat kabar yang terbit secara teratur adalah Aviso di Wolfenbuttel & Relation di Strasbourg, Jerman. Lalu surat kabar yang lain bermunculan di Inggris dan Amerika Serikat.
Di Asia, embrio jurnalistik cetak muncul di China dan Jepang. Di China, pada masa Dinasti Tang, di lingkungan istana beredar media bernama Pao, yang berarti laporan. Isinya melaporkan berbagai informasi seputar pejabat pemerintah. Di Jepang, ditemukan media dari tanah liat, dengan nama Iomori Kavaraban. Hingga kini media cetak di dunia berkembang pesat dalam berbagai bentuk.

2.   Sejarah Pers di Indonesia
a.   Zaman Belanda
Surat kabar pertama yang muncul di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda, yang masa itu dipimpin oleh Jenderal van Jonhoff. Nama medianya adalah Baviasche Nouvelles (1774). Diterbitkan di Batavia yang isinya mendukung sistem pemerintahan kolonial. Pada tahun 1886, Meulen Hoff mendirikan Pemberitaan Betawi di Batavia. Setahun kemudian Stevanus Sadiman dan Mas Marcus Garito mendirikan Bianglala. Sinar Terang  (1890-1912) diterbitkan Liem Bian Goan dan Tjaja Soematra (1899-1933) diterbitkan Liem Soe Hian, yang keduanya berada di Padang. Tokoh peritis pers Indonesia antara lain Dr. Abdul Rivai, R. Bakrie Soeraatmadja, R. M. Binarti, Dr. Danudirja Setiabudi (E. F. E. Douwes Dekker) dan masih banyak lagi yang lain.
b.  Zaman Jepang
Pemerintahan Jepang melarang pers berbahasa Belanda dan Cina. Koran berbahasa Indonesia mendapat sensor ketat dari Jepang dan jumlahnya hanya sedikit yang tersisa, antara lain Asia Raja (Jakarta), Sinar Baroe (Semarang), Sinar Matahari (Jogjakarta), Soeara Asia (Surabaya). Kantor berita Antara diganti namanya menjadi Domei (berbahasa Indonesia) dan Yashima (berbahasa Jepang).
c.   Periode 1945-1950
Pada masa awal Indonesia merdeka, beberapa surat kabar di berbagai daerah, seperi Merdeka, Pedoman, dan Berita Indonesia  Jakarta. Di Solo, Kedaulatan Rakjat, Waspada  di Medan, Mimbar Oemoem Tebing Tinggi dan Kedaulatan Rakjat dan Kantor Berita Antara di Jogjakarta. Sedangkan secara nasional, pada saat itu terdapat 75 surat kabar dan majalah, bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dan bahasa Cina.
d.  Periode 1950-1959
Masa ini ditandai dengan masa pemerintahan liberal yang dipimpin oleh Ir. Soekarno. Pada periode ini perkembangan surat kabar meningkat, hal ini ditandai dengan munculnya 104 surat kabar dan 226 majalah yang terbit dan bahasa yang digunakan juga beragam; Indonesia, Inggris, Belanda dan Cina. Perkembangan politik pada masa ini juga mampengaruhi perkembangan media massa, dengan munculnya surat kabar yang dibina oleh politik saat itu, seperti Soeloeh Indonesia (PNI), Harian Rakjat (PKI), Doeta Masjarakat (NU). Setahun sebelum Dekrit Presiden dari sisi kemerdekaan pers, 40 surat kabar dibredel karena isinya dinyatakan bertentangan dengan kebijakan presiden saat itu. Beberapa surat kabar antara lain Keng Po, Indonesia Raja dan Bintang Minggoe.
e.   Periode 1959-1965
Sesudah Dekrit Presiden, Indonesia memasuki masa Demokrasi Terpimpin. Pada masa ini ditandai dengan informasi media massa tidak boleh bertentangan dengan presiden. Pada masa ini yang beroplah besar adalah media massa yang dikelola partai politik.
f.    Periode Ode Baru
Pemberontakan G30S/PKI menyebabkan surat kabar yang “berhaluan kiri” dilarang, seperti Harian Rakjat, Warta Bhakti, dan Soeloeh Indonesia. Bersamaan dengan itu, muncul pers dan surat kabar mahasiswa sebagai media perjuangannya, seperti Harian KAMI dan Minggoean Mahasiswa Indonesia di Bandung. Perjalanan pers nasional mengalami masa kelabu, setelah terjadi peristiwa 15 Januari 1974 yang dikenal dengan Malapetaka Lima Belas Januari (Malari), beberapa surat kabar dilarang terbit. Setelah itu, surat kabar yang berkembang justru surat kabar independen dan professional.
Guna membedakan pers umum miliki lembaga independen dan pers khusus, seperti milik perguruan tinggi atau lembaga lain. Pemerintah menetapkan surat kabar umum harus memiliki surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP), sedangkan pers khusus tetap menggunakan SIT.
Referensi:
Mondry, 2008. Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik. Bogor Selatan: Ghalia Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar